info aja…

buat yang cari tau tentang apapun yang unik dan menarik di seputar kita

Posts Tagged ‘Indonesia’

Krisis Ambalat : Apa yang harus kita lakukan? Diplomasi atau Aksi?

Posted by Probosuryo pada 3 Juni 2009

Ada kejadian menarik beberapa hari ini yang sedikit mengusik pikiran saya. Diantara hingar bingar persiapan Pemilu Capres yang ditandai dengan dimulainya masa kampanye,  saya sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat merasa sangat terganggu setelah melihat tayangan – tayangan di televisi maupun berita – berita di Internet tentang pelanggaran militer Malaysia yang beberapa kali melakukan provokasi kepada TNI AL di wilayah perairan Ambalat. Rasa Nasionalisme yang selama ini saya akui ‘tertidur’, kini mulai bangkit dan menggelora. Saya merasa tidak rela dengan ulah dari tentara Malaysia yang melecehkan harga diri kita sebagai bangsa ini.

Memang bukan hal baru apabila tentara Malaysia melanggar batas negara dan memasuki wilayah perairan kita yang berdaulat ini. Sudah sangat sering kita mendapati bukan hanya militer, tapi banyak juga kapal nelayan yang dengan leluasa menjarah kekayaan laut kita. Namun yang memicu kekesalan saya adalah, ketika saya mengingat bagaimana kita kehilangan salah satu wilayah NKRI dalam Mahkamah Internasional beberapa waktu yang lalu. Ketika berseteru dengan Malaysia mengenai Simpadan dan Ligitan, kita mencoba menyelesaikannya dengan diplomasi damai. Namun, apa yang terjadi? Ibu pertiwi kembali kehilangan hak atas wilayah tersebut.

Kita adalah bangsa yang sangat cinta damai. Pemimpin kita seringkali berlaku sebagai ‘pemadam kebakaran’ ketika banyak elemen masyarakat yang menyatakan gerah atas polah tingkah Negeri Jiran itu. Berbagai macam alasan dikemukakan oleh pemimpin kita untuk meredam gelora patriotisme tersebut. Mulai dari alasan anggaran, Pembukaan UUD, hingga kepada masalah Ekonomi dan Kemanusiaan. Seringkali juga saya berpikir, apakah karena kita dikenal dunia sebagai bangsa yang cinta damai dan dikukuhkan beberapa waktu lalu sebagai bangsa yang paling murah senyum, lantas bangsa lain bisa sewenang – wenang terhadap martabat bangsa ini?

Kasus Manohara adalah bagian kecil dari sedikit contoh bagaimana Warga Negara Indonesia diperlakukan dengan semena – mena oleh orang asing. Namun, saya tidak ingin kasus Manohara ini kita jadikan pemicu untuk menyulut kebencian kita terhadap bangsa jiran itu. Bagi saya, kasus Manohara adalah urusan Rumah Tangga yang tidak seharusnya negara dan media mengekspose dengan begitu luar biasa. Bagi saya, Manohara tidak lebih penting daripada TKI yang banyak disiksa, diperkosa bahkan dibunuh di negeri seberang itu. Kenapa kita tidak pernah peduli terhadap nasib mereka? Ketika Manohara menceritakan siksaan yang dilakukan suaminya, kita beramai – ramai berempati kepadanya. Tapi apa yang terjadi ketika kita mendapati seorang TKW yang penuh dengan bukti – bukti penyiksaan dan kekerasan fisik, apa yang kita lakukan? Adakah ekspose yang besar dari media? TIDAK!

Kasus David Hartanto, Mahasiswa Indonesia yang meninggal di Singapura? Apa yang terjadi? Kalau kasus Manohara diekspose dengan alasan bahwa dia adalah seorang model yang dianggap sebagai selebritis, bagaimana dengan David? David adalah salah satu aset bangsa. David Hartanto pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Pada tahun 2004, David menjadi salah satu peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan tahun 2005 mengikuti Olimpiade Matematika Internasional (IMO) di Meksiko. Bagaimana perbedaan sikap pemerintah dan media dalam kedua kasus ini, sungguh sangat memaksa saya berpikir begitu keras, yang kemudian menimbulkan pertanyaan besar ” Apakah status sosial dan tingkat popularitas seorang Warga Negara berpengaruh kepada hak – haknya sebagai Warga Negara ? ”

Tapi baiklah, dalam tulisan ini, saya tidak hendak membahas bagaimana perlakukan pemerintah kita dan media terhadap hak – hak warga negara kita yang dilanggar di negeri asing. Saya disini ingin mengungkapkan kekesalan saya terhadap sikap asing yang sudah sangat keterlaluan. Semalam, ketika mencermati sebuah tayangan di TV One yang mengulas tentang program dan pikiran para Cawapres, saya menemukan suatu hal yang menarik. Ketiga kandidat yang sedang berkompetisi menemukan satu kata sepakat bahwa “Sejengkal Tanah pun harus kita pertahankan demi keutuhan NKRI”

Dari kesepakatan ketiga tim sukses yang pasti juga merupakan pemikiran para Capres tersebut, saya menemukan sesuatu yang bertolak belakang. Apabila benar bahwa ” Sejengkal Tanah ” bagian NKRI akan kita pertahankan, bagaimana sikap kita terhadap kelakuan militer asing yang menginjak – injak harga diri kita di Ambalat? Haruskah kita berdiam diri? Haruskah kita menunggu ada aksi yang lebih ekstrim dari militer asing dulu, baru kita bertindak?

Sudah saatnya pemerintah kita mengambil sikap yang lebih tegas terhadap kejadian – kejadian seperti ini. Bukan berarti saya tidak mendukung strategi pemerintah dalam berdiplomasi, tapi menurut saya, ketika Diplomasi dengan cara anggun dan elegan tidak dapat menyelesaikan masalah, sudah saatnya Diplomasi harus Disertai dengan Aksi.

Posted in Opini Saya | Dengan kaitkata: , , , , , | 4 Comments »

Ternyata…foto Sisingamangaraja XII hanyalah imaginer !!!

Posted by Probosuryo pada 29 Mei 2009

Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII

Siapa sangka kalau lukisan Sisingamangaraja XII, sang Pahlawan Nasional yang terlampir di uang rupiahan itu adalah lukisan imajiner. Dan pelukisnya adalah Sibarani, karikaturis kondang Indonesia yang dituduh oleh Benedict R.O.G Anderson, ahli Indonesia asal Universitas Cornell, Amerika, sebagai yang terbesar di negeri ini.
Nah ini menurut penuturan Eka Kurniawan lewat tulisannya di Pantau Magz edisi Februari 2002. Ceritanya begini, orang Batak pun ingin memiliki pahlawan nasional seperti Tjoet Njak Dhien, Teuku Umar dan Diponegoro. Nah usul punya usul munculah nama Sisingamangaraja XII. Masalahnya sekarang, seorang pahlawan harus memiliki sebuah potret untuk dipajang di kantor-kantor atau disekolah-sekolah dan Sisingamangaraja tak tak meninggalkan sehelai foto pun dan telah mennggal jauh di awal abad XX. Kalau sudah begini gimana, ya?
Tersebutlah nama Sibarani yang selama ini sering melukis potret. Sibarani merasa terpanggil untuk bisa menghadirkan sebuah foto pahlawan Batak tersebut untuk disyahkan menjadi pahlawan nasional. Seperti artis biro kriminal kantor polisi yang tengah mereka-reka wajah buronan tak dikenal, Sibarani melaksankan tugasnya. Ia menggali info dari keturunan sang pahlawan dan juga teman-temannya seperti ayah penyair Sitor Situmorang.
Alkisah, akhirnya lukisan Sisingamangaraja XII seselai sudah dan kemudian Presiden Soekarno mengesahkan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.
Tapi kemudian, setelah orde berganti, lukisan itu dipergunanakan pemerintah untuk uang kertas rupiahan. Sibarani yang mengetahui hal ini merasa bangga dan jengkel karena Bank Indonesia tak pernah menyebut namanya sebagai pelukis sang pahlawan, atau paling tidak minta izin mempergunakannya. Tentu Sibarani geram dan kemudian mengajukan Bank Indonesia ke meja hijau. Apakah Sibarani berhasil ? Eka Kurniawan dengan mengharukan menuliskannya begini,”Laki-laki itu (Sibarani, pen) tengah mencoba menghadapi kekuasaan pemerintah yang congkak, menghabiskan semua urusan dengan pengadilan selama delapan tahun, dan seluruhnya sia-sia kecuali menghasilkan setumpuk berkas berita acara.”
Ada cerita lebih konyol lagi. Seperti ada pertalian batin antara Sibarani dan lukisan Sisingamangaraja itu, Sibarani memburu lukisan itu kemana-mana. Kemudian ia menemukannya, semuanya telah berubah dan menyedihkan.Debu tebal menempel dipermukaan dengan pigura baru yang tak beres pemasangannya. Ada bekas jalur-jalur air hujan di jejak debu. Lukisan itu menjad berantakan.Sibarani, tak tahu apakah tertawa atau menangis untuk kekonyolah orang yang tak mengerti lukisan.

Posted in Keliling Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

INDRA: Radar Lokal Yang Pertama

Posted by Probosuryo pada 29 Mei 2009

INDRA

INDRA

Sebagai Negara kepulauan, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau besar dan kecil yang dikelilingi luasnya lautan. Hal ini membuat Indonesia memiliki potensi kekayaan bumi yang melimpah, namun juga memberikan resiko dan permasalahan yang besar. Kenyataannya Indonesia menghadapi banyak ancaman dan permasalahan akibat posisi geografisnya, seperti konflik teritorial dengan Negara tetangga, penyelundupan kekayaan alam, pembajakan kapal laut, dan terorisme.

Untuk mengurangi masalah yang ditimbulkan sekaligus membantu memaksimalkan pengawasan dan pengamanan negara, Indonesia memerlukan suatu sistem pengamanan terintegrasi yang diaplikasikan ke dalam bentuk radar. Selama ini teknologi radar dikuasai oleh pihak asing. Bertahun-tahun lamanya Indonesia membeli radar dari negara lain dengan biaya sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhannya.

Beno Pradekso, Direktur Utama Solusi247 menyatakan, “Sudah waktunya teknologi strategis seperti radar, dikuasai oleh sebuah bangsa besar seperti bangsa Indonesia. SOLUSI247 bersama dengan divisi radar RCS-247 (Radar & Communication Systems) berhasil meluncurkan sebuah karya anak bangsa di bidang teknologi radar. Radar buatan anak bangsa ini diberi nama INDRA.

Radar Maritim INDRA dibangun dengan kemampuan mendeteksi dan mengukur jarak sebuah kapal di lautan dengan penggunaan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW) yang mampu menghasilkan radar canggih dengan daya pancar sangat rendah. Karena daya pancarnya yang sangat rendah itu INDRA dapat dioperasikan dimana saja dan tidak akan menggangu perangkat-perangkat lain di sekitarnya.

Dalam proses pembangunan INDRA, RCS-247 bekerjasama dengan institusi-institusi riset, pendidikan dan swasta dalam negeri seperti PPET- LIPI, ITB, UI dan IDE. Dalam kerjasama ini, pembangunan INDRA dilakukan sepenuhnya di Indonesia oleh insinyur-insinyur terbaik anak bangsa. Teknologi radar yang diterapkan pada INDRA didukung juga oleh institusi riset IRCTR – TU Delft di Belanda yang memang sudah sejak lama menguasai teknologi ini.

Mengukur dengan Akurat

Pada tanggal 24 Oktober 2008, untuk pertama kalinya INDRA diujicobakan di pantai Cilegon, Banten. Ujicoba ini disaksikan juga oleh Dinas Litbang TNI-AL. Dalam penampilan perdananya, INDRA mengukuhkan eksistensinya sebagai radar maritim. Hal ini dibuktikan dengan kemampuannya mendeteksi dan mengukur jarak sebuah kapal yang sedang berlayar di laut dengan akurat.

Dr. Ir. A. Andaya Lestari, Head of Division dari RCS-247 menegaskan, “Tanggal 24 Oktober 2008 merupakan momen bersejarah bagi dunia IPTEK Indonesia. Hari itu untuk pertama kalinya setelah 63 tahun kemerdekaan Indonesia, akhirnya sebuah radar buatan bangsa Indonesia telah berhasil dibangun dan dioperasikan. “Semoga keberhasilan ini turut menyemarakkan 100 tahun kebangkitan nasional Indonesia,” kata Andaya.

Saat ini RCS-247 mengembangkan beberapa varian dari radar maritim yaitu Radar Kapal (Marine Radar) dan Radar Pantai (Coastal Radar) yang dapat berfungsi sebagai radar stand alone maupun membentuk jaringan radar. RCS-247 juga telah mengembangkan dan mengoperasikan sebuah Radar Penembus Tanah atau Ground Penetrating Radar (Georadar) yang berfungsi untuk mendeteksi benda-benda yang tertanam di dalam tanah.

“Dengan diluncurkannya INDRA, Indonesia telah berhasil membuat radar sendiri dengan keunggulan yang mampu bersaing dengan radar buatan luar negeri,” kata Andaya menambahkan. (diambil dari sebuah artikel LIPI)

Posted in Teknologi | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Panser Made in Indonesia

Posted by Probosuryo pada 29 Mei 2009

Kendaraan Lapis Baja Made in Indonesia

Kendaraan Lapis Baja Made in Indonesia

Apakah anda setuju ketika sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia harus mandiri dalam bidang pertahanan dan keamanan? Kalau jawaban anda “setuju”, maka segeralah berbangga hati. Indonesia, saat ini sedang merancang kendaraan P2 Komando dan P3 Kendaraan Khusus.

Proses yang panjang dan mahal dan mahal ini dimulai dari tahun 2003, setelah ada permintaan tidak tertulis dari pihak militer (angkatan darat). Semua proses yang menerapkan teknologi tinggi dalam bidang rancang bangun alat utama sistem pertahanan ini dikerjakan oleh putera-puteri terbaik bangsa.

P2 komando adalah kendaraan antipeluru dan lapis baja yang berfungsi untuk pengintaian. Sedangkan kendaraan khusus P3, sebenarnya adalah kendaraan taktis karena sifatnya digunakan bagi pasukan khusus untuk penyerbuan gerak cepat. Jadi, memiliki kelincahan mobilitas tinggi dan bisa dipakai di segala medan.

P2 yang didesain menyerupai panser ini, memiliki ketebalan baja tujuh mm dan ketahanan peluru sampai 7,62 kaliber AK 47. Dengan empat roda yang dimilikinya, P2 memiliki High Mobility yang sangat diperlukan untuk menjalankan misi-misi dalam bidang pertahanan dan keamanan.

Sedangkan P3, merupakan kendaraan khusus yang dapat disesuaikan dengan fungsi yang dibutuhkan oleh penggunanya. Misalnya den bravo Paskhas, digunakan untuk penyerbuan udara. Brimob Polri daapt menggunakan P3 untuk mengurai massa atau mengejar, jadi sifat P3 lebih spesifik tergantung dari kebutuhan penggunanya.

 

Posted in Teknologi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Hebatnya Nenek Moyang Kita….Batik Pun Mempunyai Unsur Matematika!

Posted by Probosuryo pada 29 Mei 2009

Motif Batik

Motif Batik

Batik tidak hanya kaya akan filosofi. Batik juga kaya akan penghitungan matematika. Tampaknya nenek moyang kita telah meninggalkan jejak matematika fractal pada kain batik Indonesia.

Adalah M Lukman, Yuri Hariadi alumnus ITB, dan Nancy Margried alumnus Universitas Padjadjaran Bandung membentuk Pixel People Project untuk melakukan penelitian itu.

Apa itu fractal? Fractal adalah salah satu cabang ilmu matematika yang mempelajari teknik perulangan.

Batik fractal adalah proyek awal Pixel Project. Nancy mengungkapkan ide munculnya batik fractal saat ia bersama Yun dan Luki (Lukman) membicarakan objek yang unik untuk dijadikan desain. Luki yang menjadi desainer senang menggambar objek unik. la sering menggambar robot atau tokoh komik dengan teori matematika fractal. Pada suatu ketika Nancy meminta agar Luki menggambar objek yang lebih organis seperti tumbuhan. Luki melukiskan gambar organik, yang kemudian tampak seperti batik.

Yun yang ahli matematika sepakat untuk meneliti kemungkinan batik-batik di Indonesia memiliki unsur matematika. Dari situ, mereka mulai mengumpulkan beragam motif batik untuk dianalisis dari sudut pandang matematika. Sebanyak 300 motif batik dianalisis. Mereka juga berkonsultasi dengan Achmad Haldani yang terkenal sebagai ahli batik tradisional di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

“Ternyata dari hasil penelitian itu setiap batik tradisional memiliki unsur matematika. Ketika diaplikasikan ke komputer dengan menggunakan rumusan matematika fractal, terdapat kesamaan,” kata Nancy.

Dengan rumus matematika fractal itulah batik-batik tradisional itu bisa dikembangkan dan dimodifikasi. Mereka kemudian menyebut batik hasil modifikasi itu sebagai motif batik fractal.

Sekitar 300 batik yang tersebar di Indonesia telah diteliti lalu didesain ulang lewat komputer dengan menggunakan peranti lunak open source khusus, yaitu J-Batik.

Hasil riset komprehensif yang dikembangkan lewat analisis fractal, menurut Luki, bisa menjadi pembuktian sahih bahwa akar batik memang berasal dari Indonesia. “Pembuktian itu benar bahwa batik bukan dari negara lain, tapi dari Indonesia. Dengan riset itu pula bisa membantu prediksi terhadap perkembangan motif batik Indonesia di masa depan,” jelas Luki.

Inovasi yang terbilang sebagai sebuah terobosan baru di Iridonesia itu sangat menggembirakan. Apalagi desain pertama mereka bisa dipamerkan dalam ajang konferensi internasional seni generatif di Milan, Italia, akhir 2007 lalu.
“Dan kami satu-satunya yang menampilkan warisan tradisional dalam pameran itu. Responsnya pun sangat bagus,” imbuh Luki.

Apalagi saat ini desain-desain batik fractal mereka telah masuk ranah industri. Rumah Batik Komar di Bandung telah bekerja sama dengan Pixel dalam mengembangkan batik fractal itu. Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman pun menjadi salah satu pelanggan favorit batik fractal.

Nancy dan Luki menambahkan, setiap satu motif batik tradisional bisa didesain ulang dan dikembangkan menjadi ribuan motif baru. Namun, ada pula kendalanya di lapangan. “Tidak semua perusahaan alat batik bisa menciptakan alat batik yang cukup rumit. Jadi kalau motifnya mau dikembangkan lebih rumit lagi, takutnya malah tidak bisa dicetak,” kata Nancy yang menjadi kepala bisnis dalam perusahaan mereka.

Keterbatasan itu membuat Luki selaku pencipta desain akan menciptakan desain lebih sederhana.

Sumber

Hebat kan? dalam berkesenianpun, nenek moyang kita menggunakan teori matematika….Semakin bangga dan cinta Indonesia

Posted in Keliling Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | Leave a Comment »